“sudahlah mas, aku rela kok misal sampean poligami” sebuah kalimat yang mungkin tidak pernah terpikir olehku bakal keluar dari bibir mungil lisa, istriku.
“ apaan sih dik, ga usah bercanda gitu” aku jawab sekenanya sambil menuju kamar mandi untuk membersihkan cairan sperma sisa menunaikan kewajiban biologis seorang suami.
“ aku tak pernah bercanda mas, aku ikhlas lillahi ta ala……” samar-samar kudengar lisa berusaha meyakinkan aku dan mungkin juga dirinya. “Dalam ajaran agama kita juga diperbolehkan kalau laki-laki pingin menikah lebih dari satu”
“tapi aku gak mau poligami dik, bolehkan? Satu istri aja belum habis hehehhehe…….” Selorohku sambil memberikan kecupan dikeningnya.
“ mas aku serius, aku beneran ikhlas, aku ridho’ lagian jalan poligami itu sah bagi kita dan agama yang kita anut.”
“iya aku tahu islam membolehkan seorang suami beristrikan lebih dari satu, aku tahu. Tapi itukan pilihan bagi mereka yang mampu dik, gak gampang untuk hidup poligami itu.’
“ aku yakin kok mas mampu, aku yakin.”
“ kok kamu bisa segitu yakinnya aku mampu berpoligami?”
“Ya karena aku telah mengenal mas luar dalam”
“Sebrapa dalam kamu mengenal aku?”
“ ya pokoknya aku yakin kalo mas berlaku adil kalo ntar punya istri lagi”
Sejenak aku pandangi wajah istriku yang masih cantik meski sudah menginjak usia 35 tahunan. Gurat-gurat tipis dimatanya membuatnya kelihatan semakin sempurna sebagai wanita. Hidungnya yang mungkin tidak semancung hidung dian sastro, namun itulah salah satu keunikan yang dia punya.
“ aku tidak mau menyakiti perasaanmu dengan membagi cintaku kepada wanita lain. aku tidak mau,, tidak mampu mendengarkan suara tangisanmu ketika aku bersanding dengan wanita lain, meski tangismu tidak mampu keluar dari bibirmu dan hanya bergema dalam hatimu. Aku tidak mau engkau hanya memiliki separuh dari hatiku, karena aku ingin engkau memiliki hatiku seutuhnya tanpa pernah terbagi untuk wanita lain, karena engkaulah cinta sepenuhnya cinta. Yah walau dulu kita hanya dijodohkan, tapi malam malam yang telah kita lewati membuatku makin mencintaimu, tanpa alasau kau istri perjodohan.’
Aku usap butir air mata yang mulai menetes dari kelopak matanya yang bening, aku sungguh selalu tidak bisa melihat mata itu meneteskan kepiluan jiwanya.
“seorang nabi Muhammad SAW menikahi beberapa wanita bahkan lbh dari 4, dan aku hanya meminta engkau menikahi satu lagi wanita selain aku.” Lisa kembali beragumen tentang poligami padaku sambil menahan tangisnya.
“ aku bukan nabi Muhammad SAW, lisa. aku hanyalah joko prayogo seorang ustadz kampung yang hanya bisa ngajarin anak2 kampung belajar membaca al quran, bukan nabi.”
“tapi kan banyak juga kyai-kyai atau ustadz yang menikahi wanita lebih dari satu, meski hanya dinikahin secara siri bahkan mungkin ada juga yang tanpa sepengetahuan istri pertamanya. mas ini sekarang aku beri ijin dan restu untuk mencari wanita lain selain aku sebagai istri mas……”
“mungkin kyai kyai dan ustaadz-ustadz itu sudah merasa mampu untuk berlaku adil seperti layaknya seorang nabi Muhammad, liz. Tapi aku tidak. mas mu ini juga tidak habis pikir dengan tindakan mereka yang mengaku kyai, ustadz, da’i atau apalah namanya yang dengan seenak udelnya menikahi wanita lain padahal istrinya sudah lebih dari satu. mending kalau mereka menikahi janda-janda tua usia 50 tahun atau 60 tahunan seperti yang dilakukan nabi Muhammad, lah ini malah memilih yang lebih cantik, cerdas, ujung-ujungnya menceraikan istri istri mereka, ntah istri tua ataupun istri mudanya sekalipun.
“ aku yakin engkau tidak seperti mereka mas joko, aku yakin engkau mampu berbuat lebih adil daripada mereka, aku yakin kamu bisa adil kepadaku dan kepada calon maduku kelak.”
Entah apa yang ada dalam pikirannya, sehingga dia begitu ikhlas untuk memberikan restu dan ijin bagiku untuk mencari seorang istri dan madu baginya.
“ tak seorang wanitapun yang rela dan ikhlas berbagi tempat dengan wanita lain. tak ada seorang wanitapun yang rela membiarkan suaminya untuk mencari wanita lain. tapi ada apa denganmu? Kenapa? Apakah karena kita belum memiliki keturunan?
Kembali lisa tidak mampu menahan isak tangisnya, dan kembali air mata itu menetes membasahi jiwa yang kering. aku tatap kedua matanya dengan penuh cinta dan kasih saying yang tidak pernah berujung. Lisa semakin larut dalam kepiluan yang mungkin sudah terlalu lama tersimpan dalam hati sucinya.
“ aku ikhlas kalau memang kita tidak bisa memperoleh keturunan dari mu lisa, aku ikhlas itu semua kehendakNYA, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Toh kita masih bisa mengadopsi anak. kubelai rambut panjangnya, kepalanya rebah didadaku dan kubiarkan dia melepaskan segala kepiluan jiwanya dalam tangis yang sungguh mencabik perasaanku sebagai suami.
“izinkan aku menjadi istri yang berbakti padamu dengan memberi kesempatan bagimu suamiku untuk memiliki keturunan yang tidak bisa aku berikan dari seorang yang halal bagimu”
“ohhh lisa betapa berat permintaanmu…”“ izinkan aku menjadi istri yang berbakti padamu dengan memberi kesempatan bagimu suamiku untuk memiliki keturunan yang tidak bisa aku berikan dari seorang yang halal bagimu”
“ohhh lisa betapa berat permintaanmu…”perihku dalam hati.
Kamu tahu lisa, membagi hati yang sudah termiliki itu bukan perkara yang mudah untuk ditrima oleh kemanusiaan, Poligami berarti ada sebuah hati perempuan yang tersakiti…….meskipun ia berucap kua.
Baru saja kemarin aku mendengarkan seorang sahabatku yang telah menikah, dan seperti biasa pernikahan kami secara islam, ta’aruf, tanpa pacaran. kalau orang bilang karena dijodohkan, aku tak melihat kebahagiaan dan penyesalan diwajahnya saat dia menikah, karena mereka telah dikaruniai 2 orang anak yang lucu-lucu juga. suatu saat dia bercerita padaku ingin menikah lagi karena dia telah menemukan cinta sejatinya, karena pernikahannya selama ini hanya dijodohkan. Lalu selama ini apa yang dia perbuat bersama istrinya samapi kedua anak mereka lahir? Dia ingin berpoligami…….aku berpikir ah sanggupkah dia adil? Yang kurasa dia takkan pernah cukup merasakan kepuasan satu wanita lain lagi……, apakah dia tak pernah berpikir perasaan istrinya yg menunggunya siang malam di rumah? Apakah dia tak memikirkan kehidupan anak-anaknya kelak? Seandainya dia mengerti islam secara kaffah, tentu tak ada wanita yang tersakiti, tentu tak ada hati yang terluka dan teraniaya dengan ketidakadilan………
diambil dari kisah nyata, blog seorang teman bernama joko. thx mas atas ceritanya


