KAPAN MENIKAH?

  • Posted on March 8, 2010 at 10:11 am

Mmm. …itu sebuah pertanyaan membosankan saat ini bagiku. Saya sendiri mencoba berpikir mengapa ya setiap bertemu teman atau keluarga apalagi di acara-acara seperti pernikahan dua kata tersebut yang selalu saya dengar. Apa tidak ada pertanyaan yang kreatif selain “itu”?

Mungkin dalam pikiran mereka itu, di usia yang menginjak 30 tahun, umumnya atau rata-rata laki-laki seusiaku sudah pada menikah dan berkeluarga.

Lihat, teman-teman Sekolah ku (SMP dan SMA) saat ini memang hampir sebagian sudah menikah dan di anugerahi balita yang lucu itu. Teman kuliah ku hampir setiap bulan memposting di milis undangan pernikahan mereka. Senang juga melihat beraneka ragam model undangan dan kreatif-kreatif.

Kini hampir setiap bulan ada undangan pernikahan dirumah ku. Entah itu dari keluargaku, teman sekolah, ataupun mantan “kekasih-kekasih”ku (hehehe).

Membicarakan kata kapan menikah terpenting adalah makna pernikahan itu sendiri. Apakah yang melatarbelakangi sebuah pernikahan? Apa harus didasari oleh perasaan cinta ? Ataukah sesuatu yang mengalir begitu saja takala diri kita telah merasa siap lahir batin tanpa perlu mengenal lebih jauh pasangan kita?

Bagaimana ihwal kita merasa sudah siap dengan kekasih kita untuk membina rumah tangga? Apakah dimulai dengan penjajakan kemudian pacaran? Setelah itu kemudian “merasa cocok” lalu memutuskan untuk menikah. Bagaimana pula timbulnya perasaan cinta? Cinta yang indah dan menyakitkan itu.

Selama ini ada banyak kasus-kasus pernikahan yang saya amati. Teman yang sekaligus mantan guru SMP dulu, sebagai contoh dia hanya butuh dua minggu setelah dikenalkan oleh orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya bertanya dan dia menjelaskan, “Orangtua pasti sudah tahu apa yang tepat bagi anaknya, jadi saya yakin itulah yang terbaik. Terpenting itu dek,..niat kita. Menikah adalah ibadah”, ucapnya dengan lembut. Dia pun menyebutkan hadis Rasulullah SAW, yang intinya tidak sempurna iman seseorang bila belum menikah.

Bagaimana menikahi seseorang tanpa ada perasaan yang dalam (cinta) dan mengetahui pribadinya terlebih dahulu apa cocok denga kita atau tidak? Batin ku mempertanyakan mengenai memilih pasangan hidup Apakah selamanya mengandalkan niat baik itu?

Apakah dengan adanya niat baik itu ada jaminan bahwa pernikahan kita bakal bahagia? Kembali ter-ngiang, bahwa segala niat baik itu akan selalu dilindungi Tuhan, akhirnya pertanyaan dalam kepalaku itupun saya akhiri, karena sudah the-end kalau menyangkut kembali ke Dia..

Apakah setelah menikah perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya? Bagaimana kalo tidak sama sekali? Terus, atas dasar apa keluarga atau orang tua, memiliki pertimbangan gadis ini cocok dengan kita?

Saya menganggap pernikahan adalah soal memilih pasangan hidup yang kita rasa “baik” menurut kita.

Dapat dibayangkan bagaimana kita akan menjalani hari-hari ini berdua bersama pasangan kita itu (istri). Mulai sebelum tidur kita berada disampingnya, kemudian bagun tidur, beraktifitas di kantor, pulang kerumah maka tiada hari tanpa pasangan kita.

Apakah tidak membosankan…??? (ah mungkin tidak bila orang itu adalah orang yang kita cintai).

Dari diskusi ditempat minum Sara’ba di sungai Cerekang temanku yang sudah 6 tahun pacaran sejak lulus SMA, kemudian mereka menikah, menjelaskan bahwa semua perasaan yang mengebu-gebu (chemistry-istilah cangihnya) sewaktu pacaran itu seperti: perasaan cinta, perasaan sayang, perasaan sehidup semati sewaktu pacaran akan “hilang” setelah menikah.

Semuanya berganti dengan tema seperti; hari ini bagaimana mendapatkan penghasilan, bagaimana membiaya kebutuhan keluarga, mesti bayar cicilan kartu kredit, beli pulsa, membiaya si kecil, urusan dengan keluarga mertua, dan bla..bla..bla lagi sampai dia bilang enak dengan status men-jomblo. Lohh!

Liat infotainment, kasus-kasus perselingkuhan, kawin cerai, gugat meng-gugat antara mantan suami-istri terjadi disekililing kita. Dari pernyataan mereka banyak mengaku bahwa sudah tidak ada perasaan cocok lagi, atau istilahnya “Ilfil” (Ilang feeling).

Lalu kemanakah Cinta itu, yang takala sewaktu pacaran dan diawal-awal pernikahan layaknya pasangan sejati. Tapi berselang beberapa tahun tiba-tiba berubah menjadi pertikaian.

Tengok pernyataan Si ME seorang penyanyi dangdut kenamaan, yang kasus merebak setelah video mesumnya bersama seorang wakil rakyat YZ, menyatakan hubungan itu didasari oleh perasaan cinta. Sehingga pasti bisa dibayangkan betapa retaknya mahligai rumah tangga YZ tersebut karena kehadiran ME yang mengatas namakan “cinta”.

Cinta memang dapat membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tapi juga bisa menghancurkannya.

Saya berpikir sebenarnya, antara cinta dan pernikahan itu adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Banyak orang yang berpendapat bahwa pernikahaan adalah lembaga cinta dua insan manusia.

Saya berpikir pernikahan adalah suatu objek yang memiliki konsepsi sendiri. Memiliki aturan-aturannya sendiri, terlepas adanya cinta didalamnya. Kita tahukan budaya timur, sangat menjunjung tinggi keutuhan sebuah pernikahan. Kehormatan dari sang suami, juga kehormatan dari sang istri dari yang dinamai oleh masyarakat suatu “kebaikan”.

Dan cinta kita tahu, sifat cinta sangat tidak terikat dengan aturan-aturan yang ada.
Dan pendapatku pernikahan tidak selamanya didasari oleh cinta.

Jadi menurutku, pernikahan adalah sebuah perjalan baru bagi kehidupan kita, yang dilakukan oleh orang dewasa dengan kesadaran masing-masing.

Alangkah bahagianya (barangkali) kalau kita menikah berdasarkan perasaan cinta. Dan walaupun kita sadar, begitu sudah memasuki wilayah pernikahan, kita juga harus menanggalkan segala pengalaman (experience) bercinta kita menggantinya dengan aturan-aturan baru yang namanya lembaga pernikahan.

Tentu aturan baru itu adalah sebuah pengalaman baru lagi yang sebaiknya didasari oleh cinta, dan juga kaidah-kaidah yang kita yakini dalam agama kita masing-masing. Kaidah-kaidah yang menjadi keyakinan hidup masing-masing.

Hal ini barangkali tidak banyak orang sadari. Sehingga mereka yang sudah mengikat dirinya dengan suatu lembaga pernikahan, masih saja tidak bosan-bosannya mencari yang namanya pengalaman bercinta itu!.

Apa dulunya tidak pernah pacaran? Atau dulu nya cepat menikah? Bener gak? Ah. Tidak tahu saya sendiri belum pernah menikah.! Wallahu wa’alam. Dan bila ditanya kembali kapan menikah? Jawabannya, “Belum ketemu jodoh !”

Anda tahu kan bahwa jodoh itu urusan Tuhan, jadi sudah sulit untuk dijelaskan lebih lanjut lagi”. Ya tanyakan sendiri pada Tuhan. Atau setidaknya doaikan saya sajalah.

from kompasiana

Leave a Reply

Add Your Comment