PAGI dalam sentuhan gerimis
Saat hembusan nafas mulai sembab dikaca jendela
Apakah kau pikir aku mampu menghitung gerimis ?
Jika aku harus terdiam
Dalam sentuhan katamu yang tak kau pikirkan
Dan kembali aku hanya bisa terdiam mendengarkan katamu memuja
Tapi masih saja kau lingkarkan peluh dalam tanganku
Katakan padaku bagaimana kau melukis pelangi
Dan kau guratkan bahagia
Yang kau sebut sebagai tirai langit
Sebelum kilat pertama menyambar
Aku bangga pada bumi tempat kau jejakkan kakimu
Tanpa keluh
Dan tabah menunggu setiap langkah
Tak ingin kudekap lagi ruang sembab
Yang begitu akrab ini, untuk mengurai wajahmu
Yang selalu kupandangi lekat dalam doa
Yang kukira mendung
Saat langit menulis sajak
Kau pikir itu hujan?
Katamu ada yang telah tertakdirkan
Dan tak mampu kuusung
Dalam sebuah mangu
sekedar menikmati wajahmu dalam
karena aku bukan siapa-siapa dalam diammu
saat kutanyakan jejak yang kau langkahkan demi jam
dan aku mulai menghitung mundur detik demi detik
kapankah harus menyusuri ruang ini
dalam sendiri
Ah jika langit kemarau
Biarlah kunikmati debu demi debu
Hingga pintu langit terbuka
Dan kubersandar pada dinding-dinding yang basah
Kubersandar dalam lelah
pasti