You are currently browsing the archives for 20 March 2010

GRESA

  • Posted on March 20, 2010 at 5:20 am

Kulewati malam gelapku
Sinar cahaya benderang dilangit
Tapi redup dijiwaku
Aku mulai melepasmu, bukan karena kuingin
Genggaman tanganmu kurasa mulai melemah
Dan tak mungkin kueratkan
Bukan lagi padaku kau menatap
Aku tersenyum saat kau pergi
Walau hatiku hancur tak bermuara
Demi utuhnya hatimu bahagia
Kuhancurkan hatiku
Dan aku tak peduli,biar kutahu
Sakit menelan sesaknya dadaku
Aku bukan lagi yang pertama dihidupmu
Pergilah aku ikhlas

from : GRESA

  • Posted on March 20, 2010 at 5:04 am

Bila kau rindukaknku, keluarlah pada malam
Akan kautemukan aku juga menjadi bintang
Menyinari hatimu
Menyayangimu tak terukur
Aku telah memilikimu disetiap nafasmu
Dan bila akhirnya aku harus melepasmu dalam sehari
Sungguh aku tak ingin memilih
Merindu padamu sungguh kutak mampu
Aku jatuh dalam lautan nadimu
Aku ingin selalu bersamamu
Tapi itu tak mungkin, hatimu adalah milikku, tapi tidak ragamu
Aku bersukur telah memilihmu diantara hati yang kumiliki
Aku ingin selalu kau menyayangiku, aku ingin mendengarmu
Mengatakannya juga,walau aku tahu dihatimu ada aku

note : from novel yg lupa…….

tunjuk bintang

  • Posted on March 20, 2010 at 5:00 am

Akupun luruh dalam cahaya
Menjangkau jauh tak tertanam
Keakuanku menjulang merampas jernih
Bermain bersama ego,lupakanmu sekejap
Pada duniaku kuberkenan
Memahami hati yang berharap
Tetap kuberlari mencari jawaban
Kuterdiam sebagai
Menunggu bintang jatuh
Bersujud dihadapku
Aku hanya bisa tersenyum
Memandangmu yang terdiam pada bimbang
Berdirilah bersamaku
Kutunjukkan bintang tak tersentuh
Tapi kumampu milikinya dalam pejam

KANAK

  • Posted on March 20, 2010 at 4:57 am

tak perlu kau usung sendu dalam pekat
biarkan labirin embun meresap dalam tanah tanah basahmu
ingin kutuliskan lagu riang
seperti kanak yang menyusuri telaga danau yang biru
menghirup, sekuncup jasmine yang hampir meremah
lalu terbang setinggi yang kumampu
tak perlu ku usung sendu yang sekat
aku hanya ingin berlari kecil
bermain kecipak hujan yang rintik
tapi kumasgul
hanya malam, hujan, mendung, gerimis
yang tertata indah dalam tiap bisik
tak perlu mereka usung sendu
melewati pekuburan yang usang
karena akupun akan terbaring jua
dalam labirin yang musnah
Kulukiskan cahaya yang lapang
Bersimpul senyum dari bibir merah yang redup
Lalu kukuaskan pelangi dalam alisnya yang rekat
Kugariskan lesung pipit yang sempurna
Dalam mata yang menyempit
Sudah tersenyumlah sekali padaku
Lalu tersenyumlah untuk pagi selamanya
Sampai tanah membasah tiap incimu

Tak perlu kau usung sendu
Berikan bahagia dalam tiap sentuhmu

titahMU yang KAU sebut

  • Posted on March 20, 2010 at 1:42 am

aku ingin memelukmu
dalam sebuah malam cahaya
dengarkan dongeng seperti dalam detik kurun
aku ingin cium tanganmu seperti setelah kita puja Rabb

aku rindu saat kau bacakan sebait doamu untukku
hadapi altar dan ucapi kilauan cahaya
dalam beragam warna kelabu
aku merindukanmu
seperti kanak dulu
saat kau sentuh aku dalam hening yang kau cipta

aku ingin pelukimu
saat buliran cristal tak terurai
di dalam tanganmu kurasakan damai
menembus nadi yang kau aliri dengan darahmu

Continue reading ‘titahMU yang KAU sebut’