Eid ul Fitr 1430 H Celebration in Indonesia

  • Posted on September 22, 2009 at 8:56 am

celebrating_eidul fitr

Tidak seperti tradisi di kebanyakan negara muslim dunia, tradisi di Indonesia lebih sedikit berbeda. Kalau di Mesir atau Arab Idul Adha atau hari raya kurban paling heboh dirayakan, tapi di Indonesia justru hari raya Idul Fitri yang dinanti-nanti. Di luar bulan Ramadhan, masjid paling ramai ketika masuk waktu maghrib. Sebaliknya ketika di bulan ramadhan, sholat magrib malah paling sepi. Yang paling rame didatangi orang justru adalah warung atau tempat makan. Tidak ada yang mau melewatkan buka puasa.

Setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga, segera setelah bedug magrib orang merayakan kemenangan dengan menyantap minuman seperti kolak, es buah, cendol terus diikuti dengan makanan lengkap seperti sate, soto, dll. Pokoknya yang enak-enak lah, kalaw kata pak Bondan mak nyuss !! Walhasil, anggaran ibu-ibu rumah tangga untuk menyiapkan menu buka puasa menjadi dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.

Bulan Ramadhan terbagi ke dalam tiga fase, yaitu sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Sepuluh hari pertama adalah masa yang penuh barokah, sepuluh hari kedua adalah masa penuh ampunan atau maghfiroh, sedangkan sepuluh hari terakhir adalah masa Allah menurunkan rahmatnya. Pada sepuluh hari pertama orang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat tarawih berjamaah. Tapi memasuki tengah bulan, shaf di masjid menjadi bolong-bolong dan lama kelamaan menyusut. Seperti biasa, kebanyakan orang hanya semangat di awal-awal saja. Sedangkan pemandangan di pusat belanjaan menjadi semakin padat dikunjungi orang. Pada sepuluh hari terakhir, dimana diyakini oleh sebagian banyak orang sebagai masa turunnya Lailatul Qadar, orang malah sibuk menyiapkan hari raya. Ada yang begadang membuat kue, ada juga yang hunting baju lebaran.

Beberapa hari sebelum hari H, orang semakin sibuk menyiapkan keperluan untuk mudik. Sebenernya kehebohan terjadi jauh hari sebelum puasa datang. Orang cenderung pesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum harganya meroket. Buat mereka yang ingin mudik naik kereta, sebulan sebelum hari keberangkatan mereka rela berdesak-desakan di depan loket untuk mengantri tiket. Dan tentu saja mereka harus bersaing dengan calo. Sedangkan sebagian yang lain lebih memilih naik sepeda motor. Bagi mereka yang memilih naik kereta, naik kereta jauh lebih nyaman dan tepat waktu dibandingkan naik angkutan darat lainnya. Memang mendekati hari lebaran jalan sepanjang pantura padat merayap, kalau tidak mau dibilang macet total. Bus-bus malam berderetan dengan ribuan motor di sela-selanya. Jarak yang biasanya ditempuh dalam 16 jam bisa menjadi 26 jam. Mereka yang memilih naik sepeda motor, beralasan jauh lebih murah dan lebih bebas. Mereka bisa berhenti kapan saja. Pemudik dengan sepeda motor biasanya bergerak dalam rombongan sesuai dengan jurusan, misalnya mereka yang hendak ke Tegal, dll. Sepeda motor yang hanya diperuntukkan untuk maskimal 2 orang, dipaksa untuk mengangkut seluruh keluarga. Bapak, ibu dan anak. Anak bisa tiga, yaitu di depan, di tengah, dan satu digendong ibunya. Itu di luar barang bawaan. Kalau melihat perlengkapan “perang” mereka, kita pasti akan geleng-geleng kepala. Mereka cukup kreatif memodifikasi sepeda motornya agar bisa memuat banyak barang bawaan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah oleh-oleh dari Jakarta untuk sanak keluarga di kampung. Begitu juga kalau pulang, kardus yang kosong itu akan diganti dengan oleh-oleh dari kampung seperti singkong, sayuran, dll. Kondisi yang sangat tidak aman. Yang menjadi korban dari kondisi ini adalah anak-anak. Mereka belum bisa memutuskan, makanya ngikut aja apa kata orang tua. Bahaya yang mengancam, selain kecelakaan, yang mungkin terjadi adalah faktor cuaca seperti hujan, angin, dll. Kepolisian memberi ultimatum tidak akan segan-segan menilang pengendara dengan barang bawaan yang berlebihan.

Bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan atau musafir, diberi keringanan untuk tidak menjalankan puasa. Tapi bukan berarti bisa seenaknya makan di tempat umum. Tapi kalau sempet melalui daerah pantura di saat mudik gini, orang makan menjadi pemandangan yang sangat bisa dimaklumi. Warung-warung makan pinggir jalan selama bulan puasa dianjurkan untuk memberi kain penutup, tapi pada saat-saat mudik orang sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Sambil istirahat mereka dengan bebas menikmati makanan. Sekali lagi itulah privilege mudik.

Biar mudik jadi lancar dan aman, pemerintah menambah armada angkutan dan memperbaiki jalur transportasi, misalnya menutup jalan berlubang, memperlebar jalan, dll. Jadi mendekati lebaran, banyak proyek-proyek semacam itu. Pertanyaannya kenapa tidak jauh-jauh hari sehingga tidak terjadi penumpukan aktivitas di bulan ramadhan? Kadang-kadang kalau belum selesai, proyek ini dapat memperparah kemacetan. Belum lagi proyek gali lubang tutup lubang, alias pemasangan kabel ini itu. Sapa yang diuntungkan? Yang pasti kuli atau tukang-tukang bangunan. Menjelang lebaran ada tambahan pendapatan, meskipun ibadah puasa digadaikan. Kerja fisik seperti itu pastinya membutuhkan energi ekstra, dan amat sangat berat jika dilakukan sambil menunaikan ibadah puasa.

Ngomongin mudik, adakah tradisi mudik di negara lain seperti halnya di Indonesia ? Tidak ada keharusan orang untuk sungkeman, yang adalah perintah untuk saling meminta maaf. Tapi orang Indonesia paling hobi pulang kampung. Itung-itung silaturahmi, dan hanya satu tahun sekali ini. Sebenernya motifnya ga cuma silaturahmi, tapi ada sedikit unsur ‘pamer’. Si A yang sudah setahun kerja di Jakarta kini sudah bisa pulang bawa hape. Jadinya para saudara dan tetangganya jadi ngiler. Mereka jadi tertarik untuk ikut mengadu nasib di ibu kota. Inilah potensi-potensi urbanisasi. Belum lagi para TKI dan TKW. Mereka biasanya pulang dengan banyak duit, sehingga pulang-pulang bisa membeli sepeda motor. Begitu akan balik ke negeri Jiran atau Timur Tengah, sepeda motor itu akan dijual lagi.

Menjelang lebaran, budaya konsumerisme meningkat. Harga bahan pokok juga ikut-ikutan naik. Meskipun pemerintah sudah gembor-gembor bahwa pasokan sembako sudah diamankan, tetep aja harga selangit. Selain konsumerime yang merakyat, pengemis dadakan juga semakin menjamur. Merekalah yang sangat cerdas memanfaatkan momentum ramadhan, yaitu menarik infaq dan sodaqoh sebanyak-banyaknya. Di pinggir jalan, di depan loket ATM, berjejer di tempat pemakaman umum. Yup, menjelang lebaran, pemakaman ramai didatangi orang yang ingin berziarah kubur. Di negera lain memang tidak ada, ini adalah sisa-sisa tradisi yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat.

Terkait dengan desakan konsumerisme dan mudik, tingkat kriminalitas meningkat. Apa hubungannya coba? Karena adanya desakan untuk membeli baju baru, sepatu baru, dll orang menjadi semakin nekat. Mereka mencopet, menjambret, mencuri, merampok hingga tidak segan-segan membunuh. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja, selama bulan September ini telah terjadi lebih dari 12 kali kasus perampokan. Kejahatan selain terjadi karena ada niat, juga disebabkan karena adanya kesempatan. Selama lebaran banyak rumah yang ditinggal penghuninya mudik. Rumah inilah yang menjadi sasaran perampok. Sangat gampang untuk mengetahui rumah mana yang tidak berpenghuni, yaitu dari lampu depan rumah. Kalau lampu itu menyala sepanjang hari menunjukkan bahwa orangnya tidak ada.

Di samping tingkat kriminalitas yang meningkat, tingkat hunian hotel juga meningkat. Keluarga kaya yang ditinggal mudik pembantunya dan tidak mau repot dengan urusan rumah tangga (memasak, cuci mencuci, bersih-bersih), memilih menghabiskan liburan dengan tinggal di hotel.

Satu lagi yang sangat Indonesia adalah kebiasaan mengirimkan hantaran atau parcel. Siapa sih yang tidak ingin menerima parcel. Tapi jangan salah, di balik kiriman kue, buah, mukena, perlengkapan makan, sampai kunci mobil ada maksud lain, yaitu tidak jauh-jauh dari unsur kolusi dan korupsi. Setelah adanya larangan menerima parcel, ntah bagaimana nasib penjual parcel. Hingga saat ini KPK masih memberi keringanan dengan batasan parcel tidak lebih dari 500ribu per parcel.

Itulah lebaran dan segala tradisi di Indonesia. Unik dan sangat Indonesia. Sayangnya puasa dan lebaran tidak lagi bermakna religius dan essensial, melainkan hanya sebatas kebiasaan turun menurun.

Leave a Reply

Add Your Comment