Diseberangkan Gerimis

  • Posted on July 29, 2009 at 12:57 am

Dalam selang langit yang berubah jadi cahaya,
Dalam lintas yang tidak terlalu padat di sela-sela sibuknya pagi,
Masih tetap diselatan Jakarta,,,,,,
Jam menunjukkan jam 5.15, masih terlalu pagi memang untuk sebuah ukuran Jakarta. Tak seperti biasanya juga aku berjalan keluar dari kompleks (kost-kostan maksudnya, hehhehhe) untuk jalan-jalan mengeluarkan sisa energi yang tumbuh menjadi lemak,, karena rasanya terlalu tambun dan berat kian hari. Untuk ukuran Jakarta yang menuntut semuanya serba cepat, rasanya ga perlu memelihara tubuh terlalu gendut, lebih tepatnya untuk mempertahankan agar tubuh terasa fit dan sehat.

Pagi itu aku liat seorang bapak yang sudah nggak timur lagi ( istilah jawa, timur = muda). Rambutnya mulai memutih, tangan-tangannya mulai keriput, kakinya tak sekokoh dulu lagi (kayaknya :-) ). Selintas dia tersenyum padaku, akupun tersenyum karena kita ke arah yang sama, sama-sama mau menyeberang jalan. Hanya saja aku terdiam tertegun, dan bapak tua itu mulai menyeberang jalan sambil membawa bakul yang dia jinjing dipundak tangan kanan kirinya (pikulan bahasa jawanya, cuma bahasa indonesianya apa, saya ga tahu :) )

Dalam sekejam BLASSSSSSTTTTTTTTTTTTTTTT………………….pikulan yang ternyata isinya tempe itu berantakan semua, tersentuh bodi metro mini………… ya ALLAH……..sekejap aku berlari menghampirinya…….”gapapa pak?”

” gapapa nak” laki laki itu tetap mengumbar senyum.

“tapi pak tempenya?”

” yang masih laku ya bapak jual, kalau yang udah berantakan ya biarin aja nak, bukan rejeki bapak. Makasih ya”. Dan lagi-lagi bapak itu tersenyum kearahku. Dia memunguti tempe-tempe yang berserakan, yang masih bisa dijual kembali dia masukkan di pikulan yang dia bawa, yang tak bisa dipakai dimasukkannnya tas plastik. Dan ya Rabb tempe yang di dalam tas plastik itu dibuangnya, rasanya hatiku miris pingin nangis, sepagi ini dia sudah siap  rugi dengan jualannya. Yang aku tahu proses membuat tempe itu cukup panjang, belum lagi kalau raginya ga bagus, maka tempe hanya tinggal kenangan alias ga jadi. Lumayan cukup banyak tempe yang terbuang, aku jadi berpikir bagaimana keluarganya yang berharap si bapak membawa uang yang cukup. Ahhhhhh…….. padahal satu lonjor tempe harganya cuma 1500 perak, itupun masih bisa ditawar, kecuali tempe yang sudah masuk mall satu iris kecil saja Rp. 5000 harganya. Si supir metro mini sang penabrak hanya melongok dari jendela dan tetep menggas kencang kendaraannya.

Pagi yang membuatku tertegun. Susah ya cari uang itu…….kenapa kok kita bisa makan dan menghamburkan uang sebegitu banyaknya hanya untuk urusan makan, fun dsbnya.

Ahhhh pagi yang takjub….

Dalam petang yang sudah mulai tersimpuh, selepas magrib, isya’ ding…..mencoba menikmati alam jakarta yang tetap saja penuh asap  kendaraan motor. Diseberang jalan aku lihat seorang lelaki memarkir motornya dipinggir jalan sambil tergopoh-gopoh dia berlari kecil menyusuri jalan, hemmmmmmmmm.

Ternyata tas plastiknya terjatuh, dan beras itu sudah berceceran sepanjang jalan di jalur busway jakarta, berderu kendaraan yang kencang. Bapak itu memungut beras yang tumpah. Diraupnya sekepal demi sekepal dan dikembalikannya semampunya ke dalam plastik pembungkusnya. Beras itu tak ada 2 kg kalau saya taksir.

Ahhh petang, kembali menyeberangkan saya dalam gerimis.

Terbayang beras yang tak seberapa itu untuk makan anak istrinya besok. Dia berangkat dengan puasa agar tetap bisa menghidupi anak istrinya agar anaknya tak kelaparan disekolah. Malam ini jam menunjukkan jam 22.15 , bapak itu membawa beras untuk disandingkan dengan hasil rajutan lauk sang istri, beras yang berkurang dan berceceran dijalan, beras yang telah bercampur bau aspal,,, hmmm,, lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang, diantara gerimis yang membuat hati benar-benar luluh, senyap.

Dalam kunang dilangit senja
Diantara bintang yang bertabur lenggang
Aku mencintaimu berhapus nana
Dalam gemericik keringatmu yang syahdu
Aku mengharapmu pulang dalam doaku
Menghela nafasmu, dan masih mengusap keringatmu

Aku ingin kau tetap pulang menemuiku, mencium kening
Tak perlu wangi katsuri, atau ramuan bulgari
Cukup aku membaui keringatmu, berarti kau masih ada dalam cerminku
Aku mencintaimu dalam tiap doaku
Aku merindukanmu dalam tiap renungku
Dalam tangan Tuhan aku mencintaimu
Menunggumu pulang untuk saling tersenyum bening

Puisi ini kudengar saat ada yang bercerita tentang sebuah keluarga, dan bagaimana kisah tentang harap.

2 Comments on Diseberangkan Gerimis

  1. fame

    wow, di jakarta masih ada ya, orang seperti si bapak penjual tempe.
    btw judulnya mengingatkanku pada puisi Sapardi.

    ada gadis kecil diseberangkan gerimis
    ditangan kanannya bergoyang payung
    tangan kirinya mengibaskan air
    dipinggir padang ada pohon dan seekor burung…

  2. tayana

    hahhahaha iya di inspirasikan, aku liat sapardi dan pembacaan puisinya waktu ulang tahunnya di TIM

Leave a Reply

Add Your Comment