You are currently browsing the archives for 2 July 2009

HuJan SaLah Musim

  • Posted on July 2, 2009 at 6:14 pm

Cada adalah seorang pimpinan redaksi majalah ternama. Tapi bagi Cada, dia hanya wanita biasa berusia 30 tahun yang  menyukai senja untuk mencari sebuah inspirasi. Ditangan kirinya telah melingkar sebuah cincin pertunangan, tapi sayang cincin itu memakan waktu yang lama untuk dipindahkan kejari manis yang lain, untuk mengikatkan pada ikatan yang lebih sakral. Masih ada ragu  dihati Cada tentang pernikahan. Cerita-cerita tentang pernikahan membuatnya sedikit trauma. Kekasihnya Nata masih saja menggantungkannya. Sampai akhirnya Cada menerima sebuah puisi yang menggetarkannya. “Aku datang bersama hujan dibulan mei. Tak perlu kau sesal saat kau tak bawa payung. Hanya sedikit basah saja. Dan jangan kau salahkan hujan. Mungkin hanya hujan salah musim saja, karena esok semuakan usai”. Sebuah puisi cantik dari Angga, sahabat yang selama ini selalu ada disisinya.

Cerita dari sahabat-sahabat Cada juga bergulir.  Nela yang harus menjalani pernikahan karena semua terlanjur disiapkan. Cerita Aya wanita yang sangat memegang teguh arti sebuah kesetiaan dan anti poligami yang akhirnya luruh menjadi wanita kedua. Seakan dunia begitu rumit, dan tak mampu lagi diramal. Pertentangan dan ketakutan hati Cada tentang sebuah pernikahan menjadikannya bingung. Baginya pulang kerumah, berarti menjadi racun dalam pikirannya, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah,,, sebuah norma masyarakat menjadikannya bahan pembicaraan. Wanita usia 30 tahun yang belum menikah, ada apa dengannya?

Ending akhir cerita ini begitu tak terduga, mengajak untuk berpikir dan memahami. Bahwa ketakutan sebuah pernikahan bukanlah sebuah alasan. Dan pilihan yang dijatuhkan Cada pun begitu tak mudah ditebak. Ada banyak hal filsafat hidup yang dapat diambil dari cerita ini, tentang hidup, sebuah komitmen, bahwa cerita tak harus melulu berbicara soal cinta, tapi kematangan dan proses menjadi wanita dewasa.

bagaimana cerita lengkapnya??? tunggu saja di sesi berikutnya,, heheheee

BiLa KuTiTipkan

  • Posted on July 2, 2009 at 6:00 pm

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung


Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Paslilah gunung meluapkan api

Tapi,,,,,,
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku
Ku simpan sendiri

(Mustofa Bisri)